Saat menapaki lereng yang membeku menuju dua jenazah, Mingma Gyalje Sherpa tahu bahwa kedua sahabatnya telah tiada.
Bersama-sama, ketiganya pernah mendaki puncak-puncak tertinggi di dunia, di bawah langit pegunungan yang cerah maupun dalam badai salju yang berbahaya. Nirmal Purja dan Kili Pemba Sherpa merupakan dua pendaki terkuat yang pernah dikenal Mingma G.
Namun, pada Juli ini, longsoran salju menerjang Broad Peak di Pakistan ketika keduanya sedang dalam perjalanan menuju puncak, menyapu segala sesuatu yang berada di jalurnya.
Gambar dari drone tampak jelas: tidak ada seorang pun yang selamat.
Namun ketika Mingma G semakin mendekati dua pakaian bulu angsa berwarna terang yang terlihat mencolok di atas salju, ia tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa kedua sahabatnya masih menunggunya.
“Saya berkata kepada mereka, ‘Tidak apa-apa. Kalian tidak perlu berada di sini dalam cuaca dingin lagi.'”
Berbicara di Islamabad, Mingma G mengenang saat mengerikan ketika ia meraih jenazah kedua sahabatnya.
Sambil memegang salah satu jenazah, ia berjanji, “Saya di sini untuk membawa kalian pulang.”
Mingma G dan Nirmal Purja bertemu di Pakistan pada 2021, ketika mereka menjadi bagian dari tim pertama yang mencapai puncak K2, gunung tertinggi kedua di dunia, pada musim dingin.
Mingma G sudah mengenal nama Nirmal, atau Nims, begitu ia biasa dipanggil, melalui film dokumenter Netflix 14 Peaks. Dalam film tersebut, Nims berhasil mendaki 14 gunung tertinggi di dunia hanya dalam waktu lebih dari enam bulan.
Keduanya merupakan pendaki asal Nepal yang sangat mencintai dunia pegunungan, tetapi menempuh jalur yang berbeda.
Mingma G berasal dari komunitas Sherpa dan membangun reputasinya sebagai pemandu gunung selama lebih dari 20 tahun. Sementara itu, Nims merupakan mantan anggota Gurkha dan pasukan khusus Inggris yang dengan cepat menjadi salah satu pendaki gunung paling terkenal di dunia.
Banyak orang memandang Nims sebagai pendaki luar biasa yang membantu para pendaki Nepal mendapatkan pengakuan internasional di bidang yang selama ini didominasi pendaki asing. Namun, ia juga memiliki sejumlah pengkritik. Mereka menilai Nims terlalu berfokus pada pemecahan rekor serta memasarkan ekspedisinya kepada pengikutnya yang terus bertambah di media sosial.
Pada 2024, The New York Times memuat tuduhan pelanggaran seksual dari dua perempuan. Purja dengan tegas membantah tuduhan tersebut melalui pengacaranya saat itu, yang menyebutnya “palsu dan mencemarkan nama baik”. Purja kembali membantah tuduhan tersebut dalam wawancara panjang tak lama kemudian.
Sebelum bertemu Nims, Mingma G mengaku sempat meragukannya. “Pada awalnya, saya merasa dia sangat arogan.”
Namun, pandangan itu berubah ketika keduanya bertemu sekitar lima tahun lalu sebagai pesaing dalam perjalanan menuju K2. Mereka kemudian memutuskan mendaki gunung tersebut bersama dan berbagi rekor. Mingma G mengatakan ia menemukan sosok Nims sebagai orang yang “sangat baik hati, salah satu manusia terbaik yang pernah saya temui”.
Selama bertahun-tahun, keduanya kembali bertemu di berbagai gunung di seluruh dunia. Nims, kata Mingma G, “selalu berada di Everest”.
Musim panas ini, mereka kembali bertemu saat memasuki kawasan Karakoram sebelum berpisah untuk melakukan pendakian masing-masing. Nims menuju Broad Peak, sedangkan Mingma G menuju K2, yang berjarak sekitar 8 kilometer.
Nims meminta Mingma G menunggu satu hari lagi agar mereka bisa bertemu sekali lagi sebelum menjalankan misi masing-masing. Namun, pertemuan itu tidak pernah terjadi.
“Itulah hal terakhir yang dia katakan kepada saya. Saya masih menyesalinya.”
Pada 30 Juli, “cuacanya sangat sempurna, cerah, tidak ada angin,” kata Mingma G.
Saat itu, ia memimpin sebuah tim menuju K2. Tim pendaki Nims bergabung dengan kelompok lain sehingga membentuk rombongan lebih besar beranggotakan 10 orang yang sedang mendaki Broad Peak.
Pukul 08.30, Mingma G berbicara dengan Kili Pemba Sherpa, yang lebih dikenal sebagai Kilu, teman masa kecil sekaligus pendaki berpengalaman dalam kelompok Nims. Kilu mengatakan kondisi salju terlihat baik. Keduanya sepakat kembali berbicara setelah masing-masing mencapai kamp berikutnya di gunung yang mereka daki.
berbicara dengan dua pendaki yang melihat kelompok tersebut mendaki Broad Peak. “Kami menyemangati mereka,” kata salah seorang dari mereka. Ia bahkan mengambil foto para pendaki tersebut di lereng, yang tampak seperti siluet kecil di tengah hamparan salju.
Kelompok tersebut terus mendaki. Namun, kurang dari satu jam kemudian, terdengar “suara retakan seperti dentuman guntur”, kata pendaki lainnya. “Longsoran salju besar, dimulai dari puncak dan turun di kedua sisi Broad Peak.”
“Kami berharap dan berdoa agar para pendaki berada di atas longsoran tersebut,” lanjut pendaki pertama. Namun, mereka tidak lagi melihat siluet para pendaki di lereng.
Pemandu kedua pendaki tersebut kemudian memberi tahu base camp mengenai apa yang mereka saksikan.
Penyebab longsoran masih diselidiki. Namun, Alpine Club of Pakistan mengatakan bahwa meskipun salju turun lebat pada awal pekan itu, penelitian awal mereka menunjukkan longsoran tersebut disebabkan runtuhnya lempengan es, terlepas dari curah salju.
Ketika Mingma G mencapai kamp berikutnya di K2, timnya belum mendengar kabar dari para pendaki Broad Peak. Mereka tidak langsung panik karena para pendaki sering mematikan radio untuk menghemat baterai.
Namun, ada sesuatu yang mengganggunya.
Salah satu pendaki Broad Peak, Wang Zhong, merupakan sahabat dekat sekaligus klien Mingma G. Biasanya, Wang akan mengirim pesan melalui pelacak satelit Garmin untuk memberi tahu bahwa dirinya telah tiba dengan selamat di kamp berikutnya. Namun, kali ini tidak ada pesan darinya.
Ribuan meter di bawah, pemandu gunung Pakistan, Waqar Ali, juga berusaha menghubungi kelompok tersebut, tetapi tidak berhasil. Ia menduga mereka sedang tidur sebagai persiapan untuk pendakian terakhir menuju puncak malam itu.
Namun hingga pukul 15.00, tidak seorang pun di base camp mendapat kabar dari kelompok di Broad Peak.
Mingma G berada di ketinggian 7.300 meter di K2, tempat komunikasi sangat sulit. Timnya mulai menghubungi pejabat, keluarga, kontak di Kathmandu, serta siapa pun yang mungkin memiliki informasi mengenai para pendaki tersebut.
Ia mengatakan kemungkinan sekitar pukul 20.00 ketika mereka pertama kali mendengar bahwa data ketinggian dari pelacak para pendaki Broad Peak turun secara drastis. Salah satu pelacak menunjukkan penurunan sekitar 1.600 meter.
Sudah terlambat untuk melakukan pendakian dan terlalu gelap untuk menerbangkan drone, sehingga ia memutuskan menunggu hingga matahari terbit.
“Saya masih memiliki harapan,” kata Mingma G. Terutama karena Kilu dan Nims merupakan pendaki “berpengalaman dan secara fisik sangat kuat”.
Pagi-pagi sekali, sebuah drone diterbangkan. Tidak lama kemudian, operatornya menghubungi mereka melalui radio. Drone tersebut menemukan beberapa jenazah di lereng gunung. Tampaknya tidak ada yang selamat.
“Saya benar-benar tidak bisa berkata apa-apa,” kenang Mingma G dengan suara lirih.
Ia belum siap menerima kenyataan bahwa begitu banyak sahabat dekatnya telah meninggal sekaligus.
“Mungkin saya masih merasa mereka semua masih hidup dan membutuhkan seseorang untuk membantu mereka turun. Itulah sesuatu yang ada di hati dan pikiran saya.”
Pada hari itu juga, Mingma G membatalkan ekspedisinya ke K2.
Di base camp Broad Peak, Waqar menangis ketika tiba bersama seorang pendaki lain untuk memulai tugas berat membawa jenazah turun dari gunung.
Mereka berhasil mengevakuasi jenazah Nadhira Al Harthy, perempuan Oman pertama yang mendaki Everest, serta Pur Bahadur Gurung, pendaki Nepal yang telah mencapai 12 dari 14 gunung tertinggi di dunia.
Namun, masih ada jenazah yang tertinggal di gunung dan Mingma G bertekad membawa pulang para sahabatnya.
Ketika menghubungi istri dan saudara ipar Nims untuk menyampaikan kabar duka tersebut, Mingma G mengatakan mereka kesulitan mempercayainya. Istri Kilu “tidak bisa berkata banyak, tetapi mengatakan kepada saya, ‘jangan tinggalkan saudara saya di gunung’.”
Persiapan untuk misi evakuasi berikutnya tidak mudah.
Para pendaki yang sebelumnya mendaki K2 bersama Mingma G merasa terguncang, katanya, dan mendapat tekanan dari keluarga mereka untuk pulang.
Kemudian ada persoalan logistik. Berdasarkan gambar drone, Mingma G memperkirakan jenazah dapat dievakuasi menggunakan helikopter dan tali panjang. Namun, ia diberi tahu bahwa metode tersebut tidak memungkinkan.
“Di Nepal, hal seperti itu mungkin hanya membutuhkan waktu sekitar dua menit,” katanya.
Militer Pakistan, yang seharusnya menyediakan helikopter, tidak menjawab pertanyaan . Alpine Club of Pakistan mengatakan permintaan bantuan yang diajukan pada 1 Agustus telah disetujui, tetapi cuaca buruk membuat operasi tersebut tidak dapat dilakukan selama beberapa hari.
Bagi Mingma G, hanya ada satu pilihan lain, yaitu melakukan operasi evakuasi dengan berjalan kaki.
Pada 1 Agustus, kata Mingma G, tim penyelamatnya berangkat mencari empat jenazah yang mereka yakini terlihat dalam rekaman drone, yakni Nims, Kilu, Zhong, dan seorang pendaki lain bernama Nima Sherpa. Jenazah Gyaljen Sherpa juga kemudian ditemukan di dekat lokasi tersebut.
Dengan kondisi lereng yang sangat tidak stabil, terdapat risiko bebatuan jatuh dan longsoran susulan. Mengirim tim yang lebih besar berpotensi menimbulkan lebih banyak korban, tetapi tim yang lebih kecil akan kesulitan membawa jenazah turun.
Saat tim penyelamat mencapai jenazah dan mulai menurunkannya menggunakan tali, longsoran lain kembali terjadi, kata Mingma G.
Hujanan salju tersebut menyeret salah satu jenazah hingga ke dasar gunung. Tiga jenazah lainnya, termasuk Nims, berada di posisi yang lebih berbahaya, tepat di tengah lereng dengan pilar-pilar es glasial besar yang berada dalam kondisi tidak stabil di sisi kiri dan kanan. Jika salah satu pilar tersebut runtuh ketika tim penyelamat berusaha mencapai jenazah, menara es itu dapat menyapu mereka.
Tim tersebut membutuhkan rencana baru. Seiring berjalannya hari, sejumlah anggota mulai meninggalkan operasi. Jumlah mereka berkurang dari sembilan menjadi enam, kemudian empat orang.
Mengingat kondisi lereng yang sangat berbahaya, kelompok tersebut memutuskan Mingma G tetap berada di belakang dan memantau melalui drone sambil memberikan instruksi kepada tiga pendaki. Operasi yang melelahkan itu berlangsung selama lima hingga enam jam. Namun, akhirnya mereka berhasil membawa jenazah turun dari lereng.
Momen ketika pertama kali melihat para sahabatnya di gunung masih menghantui Mingma G hingga kini.
Nims dan Kilu menutupi wajah mereka dengan jaket. Mingma G meyakini keduanya sempat melihat longsoran mematikan itu datang dan bersiap menghadapinya. Keduanya terikat pada tali yang sama, dengan kaki mereka terlilit tali tersebut.
Mingma G menduga mereka mungkin saling terbentur ketika terjatuh. Ia khawatir benturan itulah yang menewaskan mereka, bukan jatuhnya.
“Mereka tidak jatuh terlalu jauh, hampir 500 meter. Namun sayangnya, saya pikir mereka berkali-kali saling terbentur. Jika mereka tidak berada pada tali yang sama, mungkin ada kemungkinan Nims dan Kilu bisa selamat.”
Tim tersebut membawa jenazah turun dari gunung. Jenazah kemudian diterbangkan dengan helikopter ke kota terdekat, Skardu, lalu dibawa ke ibu kota Islamabad dan akhirnya dipulangkan kepada keluarga masing-masing.
Jenazah pendaki Pakistan Sohail Sakhi ditemukan beberapa hari kemudian, begitu pula jenazah pendaki Amerika Serikat Mallory Geis. Sementara itu, jenazah pendaki Nepal Nawang Thindu Sherpa masih berada di gunung.
Keluarga Nims mengatakan mereka sangat berterima kasih kepada “tim luar biasa yang dipimpin saudara kami, Mingma G, yang bekerja dalam kondisi yang sangat sulit untuk membawa Nimsdai pulang”.
Misi evakuasi tersebut terus membekas dalam diri Mingma G. Menurutnya, tidak ada misi lain yang pernah ia jalankan yang bisa dibandingkan dengan operasi tersebut.
Ketika mengenangnya dengan kesedihan mendalam, ia merasa akhir kariernya sebagai pendaki mungkin sudah semakin dekat.
Kenangan tentang Kilu dan Nims, ketika ketiganya bernyanyi bersama dalam perjalanan menuju puncak K2 yang dingin tetapi cerah beberapa tahun lalu, akan selalu bersamanya.
Namun, ia mengaku, “Saya tidak yakin apakah kenangan itu membantu, apakah kenangan tersebut membuat saya terus mendaki atau justru membuat saya berhenti.”
