Mahkamah Agung Sri Lanka membatalkan pengampunan presiden yang diberikan kepada seorang biksu Buddha garis keras dan memerintahkan agar dia menjalani sisa hukuman penjara enam tahun karena mengintimidasi istri seorang kartunis politik yang hilang.
Galagodaatte Gnanasara dijatuhi hukuman pada 2018 karena menghina pengadilan dan mengintimidasi Sanya Eknaligoda, istri Prageeth Eknaligoda yang menghilang pada 2010.
Biksu tersebut sebelumnya menyela persidangan untuk menyampaikan dukungan kepada sejumlah pejabat intelijen militer yang dituduh menculik sang kartunis.
Gnanasara menjalani hukuman tersebut kurang dari satu tahun karena menerima pengampunan dari Maithripala Sirisena, yang saat itu menjabat sebagai presiden Sri Lanka.
Dalam kartun-kartunnya, Prageeth Eknaligoda mengangkat isu kebebasan media, kekuasaan politik, dan ketimpangan sosial.
Karya-karyanya kritis terhadap mantan presiden Mahinda Rajapaksa, seorang nasionalis yang dianggap berjasa atas kekalahan pemberontak separatis Tamil pada 2009 setelah perang saudara berdarah selama bertahun-tahun.
Eknaligoda menghilang pada 2010 dan tidak pernah terlihat lagi sejak saat itu. Istrinya memimpin kampanye untuk melacak keberadaannya dan menuduh pihak berwenang tidak melakukan upaya yang cukup untuk menyelidiki kasus tersebut.
Gnanasara, yang memimpin Bodu Bala Sena (BBS) atau “Kekuatan Buddha”, merupakan pendukung Rajapaksa dan saudaranya, Gotabaya, yang kemudian juga menjabat sebagai presiden.
Pada 2025, Gnanasara menerima hukuman penjara terpisah selama sembilan bulan karena menghina Islam dan menghasut kebencian antaragama.
Sri Lanka jarang menjatuhkan hukuman kepada biksu Buddha, dan hampir tidak pernah ada biksu yang menerima hukuman penjara.
