Konvensi pertama Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu memiliki seluruh nuansa pertemuan tradisional pada tahun pemilu presiden, mulai dari para pendukung dengan kostum berkilauan, deretan pidato kandidat, hingga pedagang yang menjual berbagai merchandise kampanye.
Namun, berbeda dari konvensi partai pada umumnya, tidak ada agenda resmi partai yang dibahas di Dallas. Acara tersebut justru menjadi ajang konsolidasi bagi Partai Republik untuk meningkatkan partisipasi pemilih dan mempertahankan kendali atas Kongres pada November.
Presiden Donald Trump, yang pengaruhnya terhadap partai masih sangat kuat, menyampaikan pidato utama yang panjang pada Rabu dalam malam pembukaan acara yang berlangsung selama dua hari itu. Ia membahas banyak isu yang berulang kali disampaikannya sepanjang tahun ini, dengan sejumlah kejutan.
Berikut sejumlah poin utama dari pidatonya.
1. Berbicara kepada basis pendukung MAGA
Arena yang sangat besar itu dipenuhi pendukung fanatik Trump yang mengenakan atribut merah MAGA dari berbagai kampanye kepresidenannya pada masa lalu. Satu dekade setelah pertama kali mencalonkan diri ke Gedung Putih, Trump masih sangat populer di kalangan basis pendukungnya dan telah membawa Partai Republik mengikuti arah politiknya dalam beberapa tahun terakhir.
Kelompok elite Partai Republik gaya lama, atau apa pun yang masih tersisa dari kelompok tersebut di era Trump, tidak terlihat dalam acara itu. Senator Susan Collins dari Maine dan sejumlah anggota Partai Republik lainnya yang maju dalam persaingan ketat memilih untuk tidak hadir.
Ketidakhadiran anggota Partai Republik yang lebih moderat terlihat jelas dan menjadi pengingat mengenai seberapa besar perubahan yang telah terjadi di dalam partai tersebut.
Hal itu juga menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas penyelenggaraan konvensi pemilu paruh waktu yang belum pernah dilakukan sebelumnya tersebut.
Mayoritas penonton, baik yang berada di arena maupun menyaksikan melalui televisi, tampaknya merupakan loyalis Trump, bukan pemilih moderat dan pemilih mengambang yang perlu diraih Partai Republik dalam jumlah besar pada November.
2. Partai Republik masih milik Trump
Kendali penuh Trump atas partai menimbulkan sejumlah pertanyaan penting mengenai masa depannya. Salah satunya, siapa yang akan menggantikannya? Pertanyaan yang lebih mendesak menjelang pemilu November adalah bagaimana performa Partai Republik ketika nama Trump tidak tercantum dalam surat suara?
Trump menawarkan solusi sederhana untuk pertanyaan kedua pada Rabu malam. Setelah memperingatkan bahwa presiden yang sedang menjabat biasanya menghadapi kerugian dalam pemilu paruh waktu, ia berkata kepada massa, “Saya meminta Anda berpura-pura bahwa saya ada dalam surat suara.”
Pernyataan itu merupakan pengakuan Trump bahwa dirinya masih menjadi penggerak utama partisipasi pemilih bagi Partai Republik. Hal tersebut juga menunjukkan tantangan yang dihadapi Partai Republik, baik pada November maupun dalam pemilu presiden berikutnya pada 2028.
Trump tidak akan kembali tercantum dalam surat suara. Meskipun ia masih dapat berkampanye untuk partainya, belum ada penerus yang jelas dan kuat yang mampu menggerakkan basis pendukung seperti Trump.
Dalam wawancara, para peserta konvensi kerap membicarakan pemilu dua tahun mendatang dan memperdebatkan siapa yang seharusnya menjadi penerus Trump. Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio sering disebut sebagai kandidat terkuat.
Namun, Trump menegaskan di Dallas bahwa dirinya masih memegang kendali dan tidak terburu-buru menyerahkan panggung politik kepada orang lain.
3. Pertaruhan soal keterjangkauan biaya hidup
Pada Rabu sebelumnya, ketika berangkat menuju konvensi, Trump mengakui bahwa warga Amerika mungkin masih harus menunggu lebih lama untuk merasakan penurunan harga bahan bakar.
“Saya pikir ini akan membutuhkan waktu sedikit lebih lama daripada pemilu paruh waktu,” kata Trump.
Dalam pidatonya, presiden kembali menyampaikan pesan tersebut. Ia berpendapat bahwa tekanan ekonomi jangka pendek akibat perang di Iran layak ditanggung demi mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir.
Namun, pesan tersebut mungkin sulit diterima pemilih yang tengah menghadapi kenaikan harga. Berbagai jajak pendapat dalam beberapa bulan terakhir secara konsisten menunjukkan bahwa biaya hidup merupakan salah satu isu utama bagi warga Amerika.
Tingkat kepuasan terhadap kinerja Trump juga terpukul karena perang di Iran terus berlarut-larut. Jajak pendapat Financial Times/Focaldata yang dirilis pada Minggu menunjukkan tingkat kepuasan terhadap kinerja kepresidenannya mencapai titik terendah baru, dengan hanya 33% pemilih terdaftar yang menyatakan puas.
Banyak kandidat Partai Republik kemungkinan berharap Trump menyampaikan pesan yang lebih langsung mengenai upaya mengatasi biaya hidup dan segera mengakhiri perang di Iran.
4. Trump menjanjikan pembayaran US$5.000
Trump telah lama melontarkan berbagai gagasan tidak konvensional dalam kampanye politiknya. Pada Rabu malam, ia menawarkan untuk memberikan US$5.000 (sekitar Rp83 juta) kepada setiap warga negara AS dewasa jika Partai Republik memenangkan kedua kamar Kongres pada November.
Trump mengatakan satu-satunya syarat adalah uang tersebut harus dibelanjakan di Amerika Serikat.
Ia tidak memberikan perincian mengenai bagaimana rencana itu akan dijalankan, dari mana sumber dananya, atau bagaimana pemerintah AS akan mengawasi penggunaannya. Partai Demokrat dengan cepat menyebutnya sebagai “janji kosong”, sementara pihak lain mempertanyakan apakah janji tersebut bahkan sah secara hukum.
Dengan jumlah warga dewasa Amerika yang hampir mencapai 270 juta orang, pembayaran US$5.000 kepada masing-masing warga akan menelan biaya sekitar US$1,3 triliun (sekitar Rp21,6 kuadriliun) bagi pemerintah AS.
Apakah rencana tersebut memungkinkan atau tidak tampaknya bukan persoalan utama. Gagasan itu disambut tepuk tangan meriah di konvensi, dan Trump tampak menikmati momen tersebut.
