Connect with us

Sains Iptek

Huawei Nova 2 Lite Sasar Kawula Muda, Berapa Harganya?

Neque porro quisquam est, qui dolorem ipsum quia dolor sit amet, consectetur, adipisci velit, sed quia non numquam eius.

Published

on

Photo: Shutterstock

Huawei kembali memboyong salah satu smartphone andalan mereka ke Indonesia. Kali ini, perangkat tersebut mengincar kaum kawula muda yang ingin merasakan pengalaman kamera ganda dengan harga yang cukup terjangkau.

Untuk itu, pada kesempatan kali ini mereka merilis Nova 2 Lite. Boleh dibilang, smartphone ini merupakan versi hemat dari Huawei Nova 2i yang sudah terlevbih dahulu diluncurkan beberapa waktu lalu.

“Ponsel ini memang sengaja kami hadirkan untuk kawula muda Indonesia dengan menyematkan spesifikasi yang cocok untuk mereka,” ujar Sales Director Indonesia Huawei Business Group Lo Khing Seng pada acara peluncuran Huawei Nova 2 Lite di Thamrin Nine Jakarta, Rabu (25/4/2018).

Untuk spesifikasi, Nova 2 Lite dirasa membawa komponen-komponen yang cukup baik. Semisal, mereka menyematkan prosesor Qualcomm Snapdragon 430 dengan RAM sebesar 3GB serta penyimpanan internal sebesar 32GB.

Kemudian, untuk baterai, mereka menyematkan baterai sebesar 3.000 mAh di dalamnya. Kapasitas ini cukup umum terdapat di smartphone mainstream saat ini.

Di sisi kamera, Nova 2 Lite ini membenamkan kamera ganda di bagian belakang. Satu memiliki resolusi 13MP untuk mengambil gambar normal dan satu kamera 2MP untuk membuat efek bokeh. Sedangkan untuk kamera depan, sebesar 8MP, ditemani oleh teknologi Selfie Toning Flash yang dapat memberikan cahaya optimal bagi para penggunanya.

Beralih ke bagian layar, Nova 2 Lite memiliki layar sebesar 5,99 inci dengan teknologi Huawei FullView Display. Hal ini membuat bezel di bagian atas dan bawah serta samping kiri dan kanan menjadi lebih tipis.

Yang menarik, Nova 2 Lite sudah berjalan menggunakan OS EMUI 8 berbasis Android 8.0 Oreo. Di OS ini, pengguna sudah dapat merasakan fitur face unlock untuk membuka perangkat mereka. Namun, Huawei juga tak luput menyematkan pemindai sidik jari di bagian belakang perangkat ini.

Soal harga, Huawei mematok Honor 2 Lite seharga Rp2,599 juta. Pengguna sudah dapat mulai melakukan pre-order di Lazada mulai 25 April jam 1 siang dan mulai akan dikirim mulai 4 Mei mendatang.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sains Iptek

Virus Kuno Mengancam Ribuan Penduduk Aborigin di Pedalaman Australia

Nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Published

on

By

Alice Springs – Ribuan orang dewasa dari suku Aborigin yang tinggal di pedalaman Australia, tengah terancam oleh sebuah virus kuno yang berisiko menjadi wabah.

Para ilmuwan di fasilitas laboratorium di kota Alice Springs, menyebut T-cell lymphotropic virus type 1 (HTLV-1) sejatinya tersebar di beberapa lokasi di dunia.

Namun, khusus untuk di Australia, tingkat risiko yang dimilikinya tercatat sebagai yang tertinggi di seantero jagat.

Dikutip dari Abc.net.au pada Selasa (24/4/2018), HTLV-1 merupakan ‘sepupu jauh’ virus HIV, yang dapat ditularkan melalui darah pada aktivitas seksual, atau dari ibu ke anak melalui kehamilan dan kegiatan menyusui.

Virus ini diketahui dapat menimbulkan peradangan pada kulit, mata, dan paru-paru. Menurut studi ilmah terkait, HTLV-1 juga berisiko memicu seseorang terkena gejala leukemia, kanker darah, dan cacat pada tulang belakang.

“Begitu beban pro-viral pada tubuh seseorang semakin tinggi, maka lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan yang kompleks,” ujar Joel Liddle, salah seorang peneliti.

“Pada beberapa kasus, virus ini juga bisa membuat gejala leukemia berubah cepat menjadi risiko kesehatan yang fatal,” lanjut Liddle.

Sejarah mencatat bahwa HTLV-1 paling banyak ditemukan di beberapa budaya kuno, seperti di selatan Jepang, Amerika Selatan, dan sebagian Afrika.

Virus ini diduga kuat sampai ke benua Australia melalui persinggahan maritim di Indonesia, dan kemudian memengaruhi kesehatan populasi masyarakat Aborigin secara luas.

Para peneliti Departemen Kesehatan Jantung dan Diabetes pada Baker Institute di Alice Springs, memperkirakan sebanyak 45 persen masyarakat Aborigin dewasa terkena dampak virus HTLV-1.

“Salah satu penyebab utama tersebar luasnya virus ini adalah karena mereka yang mengidap, tidak menyadari HTLV-1 bersarang di tubuhnya. Selain itu, sebagian besar masyarakat Aborigin belum pernah diuji lebih lanjut akan hal ini,” jelas Liddle.

Di wilayah Australia Tengah, para peneliti memperkirakan ada sekitar 5.000 orang yang terinfeksi virus HTLV-1, dan sebagian besar berasal dari masyarakat Aborigin.

“Itu hanya di wilayah kami, kami tidak tahu apa yang terjadi di perbatasan,” kata ahli penyakit menular Dr Lloyd Einsiedel.

“Yang mengkhawatirkan adalah HTLV-1 sekarang menyebar bersamaan dengan migrasi penduduk, dan kami telah melihat bukti nyatanya di Adelaide dan Perth,” lanjutnya menjelaskan.

Continue Reading

Sains Iptek

Kasus Pertama di Dunia, Monyet Beda Spesies Jatuh Cinta dan Kawin

Published

on

By

Photo: Shutterstock

Dodoma – Ketika berpasangan untuk kegiatan reproduksi, monyet biasanya memilih lawan jenis dari spesies yang sama.

Penelitian genetika baru menunjukkan bahwa primata di Tanzania begitu lincah, dan tidak ragu berhubungan seksual dengan lawan jenis di luar spesiesnya.

Dikutip dari Independent.co.uk pada Rabu (25/4/2018), penelitian tersebut dilakukan pada monyet ekor merah dan biru yang tinggal di Taman Nasional Gombe, Tanzania.

Meski tinggal dalam satu wilayah, kedua kelompok monyet tersebut berasal dari spesies berbeda, baik secara fisik maupun struktur sosialnya.

Ini adalah pertama kalinya kawin silang tersebut telah terbukti di antara monyet guenon.

Menurut hasil studi yang diterbitkan di International Journal of Primatology itu, hubungan unik tersebut membuahkan populasi hibrida yang unik.

“Ada banyak pergaulan bebas yang terjadi,” kata Kate Detwiler, penulis studi yang juga merupakan profesor antropologi di Florida Atlantic University.

“Monyet ekor merah berhubungan intim dengan ekor biru, dan ekor biru melakukan hal serupa ke ekor merah, yang kemudian keturunan hibridanya bisa berpasangan dengan monyet lain di luar spesies keduanya,” lanjut Detwiler menjelaskan.

Ia memperkirakan hubungan aneh itu telah berlangsung selama bertahun-tahun, yang kemungkinan alasannya adalah, monyet betina berekor merah mendapati pejantan ekor biru lebih eksotis daripada spesies mereka sendiri.

Fenomena tersebut, menurut Detwiler, diawali oleh betina ekor merah yang datang ke wilayah tersebut untuk mencari pasangan.

Adapun pejantan ekor biru datang setelahnya, yang kemungkinan, setelah ditendang keluar dari kelompok mereka ketika mencapai usia seksual matang.

Pejantan Ekor Biru Dianggap Lebih Eksotis

Dijelaskan lebih lanjut, penelitian ini melibatkan analisis DNA dari kotoran kedua primata beda spesies.

“Monyet ekor merah betina hadir sebagai mitra yang bersedia, dan tanpa paksaan, bersedia untuk bersetubuh dengan monyet jantan berekor biru,” urai Detwiler.

“Rupanya, beberapa monyet berekor merah betina tertarik pada para pejantan dengan wajah berbeda, dan terbuka untuk menyambut sinyal ajakan seksual,” lanjutnya menjelaskan.

Profesor Detwiler percaya bahwa mempelajari bagaimana kedua spesies ini hidup berdampingan, dapat membantu memahami hibridisasi secara umum.

Menurutnya, masyarakat menyediakan “laboratorium luar biasa di alam untuk membantu kami menjawab banyak pertanyaan, tentang bagaimana batas-batas spesies dipertahankan.”

Dia menambahkan, “Penelitian ini sangatlah tepat waktu karena hibridisasi sering terjadi sebagai respons terhadap perubahan lingkungan.”

Continue Reading

Sains Iptek

Atmosfer Planet Ini Baunya Mirip Telur Busuk, Manusia yang Mendekat Bisa Mabok

Published

on

By

Photo: Shutterstock

London – Sebuah penelitian ilmiah terbaru menyebut bahwa atmosfer planet Uranus memiliki bau menyerupai telur busuk. Fakta tersebut didapat dari hasil pengamatan spektroskopi sensitif melalui teleskop Gemini North.

Bau busuk pada planet Uranus berasal dari kandungan hidrogen sulfida, yakni gas beracun sejenis belerang yang memiliki karakter bau busuk.

Dikutip dari NY Daily News pada Rabu (25/4/2018), temuan yang dimuat di jurnal Nature Astronomy itu merupakan hasil penelitian kolaborasi antara ilmuwan dari California Institute of Technology, University of Leicester, dan University of Oxford.

Para peneliti menganalisis pantulan matahari dari awan untuk menyimpulkan apa yang mereka teliti, dengan menggunakan Medan Spektrometer Dekat berbasis sinar infra merah (NIFS).

“Kami mampu mendeteksi dengan jelas berkat kepekaan NIFS yang ada pada (teleskop) Gemini,” ujar Patrick Irwin, seorang profesor fisika planet dari University of Oxford.

Ketika titik-titik pantul yang diteliti tidak segera mencapai tepian ruang deteksi, peneliti menduga ada ketidakteraturan komposisi gas pada atmosfer Uranus.

Teleskop Gemini North membantu peneliti mengamati ketidakteraturan tersebut, dan kemudian mengkalkulasikannya secara kimia guna mengetahui kemungkinan kombinasi gas yang tercipta di lingkup atmosfernya.

Menurut Irwin, kombinasi gas tersebut tersusun atas gas hidrogen, helium, dan metana yang berisiko menaikkan suhu atmosfer Uranus hingga mencapai 200 derajat Celcius.

Jika manusia masuk ke kondisi ekstrem tersebut, maka kemungkinan besar akan mengalami gangguan napas, bahkan sebelum mencapai lapisan atmosfer utama planet Uranus.

Ekspedisi ke Planet Uranus Dimulai pada 2030

Sementara itu, setelah Mars, Jupiter, Saturnus, dan Pluto, NASA mulai fokus untuk menyiapkan proyek besar mengekspedisi planet Uranus dan Neptunus.

Proyek yang sebetulnya sudah direncanakan sejak September 2015 itu baru bisa direalisasikan sekarang.

Bagaimana pun, NASA masih harus menggagas sejumlah inovasi teknologi mumpuni, agar pesawat luar angkasanya bisa terbang ke orbit planet berjuluk ‘Planet Kekasih’ tersebut.

Jadi, jika dihitung-hitung, ekspedisi Uranus dan Neptunus baru bisa dimulai pada 2030. Itu juga baru Uranus. Sementara untuk Neptunus, kemungkinan besar dimulai pada pertengahan 2030 atau setelah 2040.

Tujuan utama ekspedisi tersebut tidak lain adalah untuk memantau ekosistem kedua planet.

Tak cuma itu, Badan Antariksa Amerika Serikat tersebut juga ingin mencari tahu material planet terbuat dari apa, serta komposisi atmosfer yang melapisi planet.

Para ilmuwan NASA juga berharap, ekspedisi bisa meneliti iklim planet secara keseluruhan. Jika proses penelitian rampung, barulah mereka dapat menyimpulkan seperti apa bobot kontribusi kedua planet ini terhadap Tata Surya.

Continue Reading

Trending