Connect with us

Sains Iptek

Lalat Jantan Ini Gunakan Alkohol untuk Mendapatkan Ejakulasi Lebih Lama

Nemo enim ipsam voluptatem quia voluptas sit aspernatur aut odit aut fugit, sed quia consequuntur magni dolores.

Published

on

Photo: Shutterstock

Tel Aviv – Para ilmuwan di ranah ilmu zoologi menemukan fakta bahwa seks — khususnya ejakulasi — adalah pengalaman yang menyenangkan bagi lalat buah jantan.

Menariknya, ketika hasrat seksual tidak tercapai, lalat buah jantan memilih mendekati cairan alkohol untuk membuatnya terangsang.

Dikutip dari Independent.co.uk pada Jumat (20/4/2018), penelitian unik ini tidak hanya menunjukkan bahwa kenikmatan ejakulasi menjadi fenomena yang cukup universal, namun juga bisa digunakan untuk memahami kecanduan biologis pada hewan.

“Kami ingin tahu bagian mana dari proses hubungan seksual yang memerlukan pemicu khusus pada lalat,” kata Dr Galit Shohat-Ophir dari Universitas Bar-Ilan di Israel, yang turut menulis penelitian tersebut.

“Tindakan yang dilakukan pejantan saat bermadu kasih? Langkah terakhir dari perkawinan yang merupakan pelepasan sperma dan cairan mani?” lanjutnya mengajukan pertanyaan.

Untuk menentukan apa yang dilakukan dan tidak dilakukan oleh seekor lalat buah jantan dalam meraih ‘kesenangan biologis’, para ilmuwan menggunakan metode alat yang disebut “optogenetik”.

Alat ini memungkinkan para peneliti untuk melakukan rekayasa genetika dengan sel otak lalat, yang pada dasarnya dapat dihidupkan dan dimatikan menggunakan cahaya.

Dr Shohat-Ophir dan rekan-rekannya membuat sel-sel otak pada lalat buah menghasilkan zat kimia bernama corazonin (CRZ), yang dapat dinyalakan ketika lalat menemukan cahaya merah.

Para peneliti kemudian menempatkan lalat buah jantan yang telah dimodifikasi ke dalam sebuah arena, yang setengahnya bermandikan cahaya merah.

Pelacakan gerakan lalat mengungkap pejantan lebih suka menghabiskan waktu di area bawah lampu merah, guna mendapatkan ejakulasi.

Dalam melakukan ini, para ilmuwan menghapus capaian ejakulasi dari hubungan seks, dan menemukan bahwa lalat jantan menikmati ejakulasi yang dibangunnya seorang diri.

Kenikmatan seksual itu mendorong lalat buah jantan terjaga lebih lama dari biasanya, sehingga membuat gerak terbangnya semakin aktif.

Mendekati Aroma Alkohol untuk Mencari Alternatif Ejakulas

Untuk mengkonfirmasi hasil yang dijabarkan sebelumnya, lalat buah jantan kemudian dilatih untuk mengasosiasikan ejakulasi yang diinduksi cahaya merah dengan bau tertentu.

Mereka kemudian diuji ulang untuk melihat apakah lebih menyukai bau yang terkait dengan ejakulasi atau tidak.

Bagian selanjutnya, melibatkan pengujian bagaimana ejakulasi memengaruhi keinginan lalat buah jantan untuk mendekati aroma alkohol.

“Hubungan seks yang sukses secara alami bermanfaat bagi lalat jantan dan meningkatkan tingkat peptida kecil di otak yang disebut neuropeptide F,” kata Dr Shohat-Ophir.

Lalat-lalat yang telah mengalami ejakulasi selama beberapa hari, cenderung memiliki kondisi otak penuh dengan neuropeptide, sehingga membuatnya enggan mendekati alkohol.

Hal itu dikarenakan neuropeptide dapat bereaksi kuat dengan alkohol, yang menyebabkan hilangnya konsentrasi otak.

Sebaliknya, lalat yang belum mengalami ejakulasi selama berhari-hari justru memilih alkohol untuk mendapatkan senyawa serupa neuropeptide.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sains Iptek

Huawei Nova 2 Lite Sasar Kawula Muda, Berapa Harganya?

Neque porro quisquam est, qui dolorem ipsum quia dolor sit amet, consectetur, adipisci velit, sed quia non numquam eius.

Published

on

By

Photo: Shutterstock

Huawei kembali memboyong salah satu smartphone andalan mereka ke Indonesia. Kali ini, perangkat tersebut mengincar kaum kawula muda yang ingin merasakan pengalaman kamera ganda dengan harga yang cukup terjangkau.

Untuk itu, pada kesempatan kali ini mereka merilis Nova 2 Lite. Boleh dibilang, smartphone ini merupakan versi hemat dari Huawei Nova 2i yang sudah terlevbih dahulu diluncurkan beberapa waktu lalu.

“Ponsel ini memang sengaja kami hadirkan untuk kawula muda Indonesia dengan menyematkan spesifikasi yang cocok untuk mereka,” ujar Sales Director Indonesia Huawei Business Group Lo Khing Seng pada acara peluncuran Huawei Nova 2 Lite di Thamrin Nine Jakarta, Rabu (25/4/2018).

Untuk spesifikasi, Nova 2 Lite dirasa membawa komponen-komponen yang cukup baik. Semisal, mereka menyematkan prosesor Qualcomm Snapdragon 430 dengan RAM sebesar 3GB serta penyimpanan internal sebesar 32GB.

Kemudian, untuk baterai, mereka menyematkan baterai sebesar 3.000 mAh di dalamnya. Kapasitas ini cukup umum terdapat di smartphone mainstream saat ini.

Di sisi kamera, Nova 2 Lite ini membenamkan kamera ganda di bagian belakang. Satu memiliki resolusi 13MP untuk mengambil gambar normal dan satu kamera 2MP untuk membuat efek bokeh. Sedangkan untuk kamera depan, sebesar 8MP, ditemani oleh teknologi Selfie Toning Flash yang dapat memberikan cahaya optimal bagi para penggunanya.

Beralih ke bagian layar, Nova 2 Lite memiliki layar sebesar 5,99 inci dengan teknologi Huawei FullView Display. Hal ini membuat bezel di bagian atas dan bawah serta samping kiri dan kanan menjadi lebih tipis.

Yang menarik, Nova 2 Lite sudah berjalan menggunakan OS EMUI 8 berbasis Android 8.0 Oreo. Di OS ini, pengguna sudah dapat merasakan fitur face unlock untuk membuka perangkat mereka. Namun, Huawei juga tak luput menyematkan pemindai sidik jari di bagian belakang perangkat ini.

Soal harga, Huawei mematok Honor 2 Lite seharga Rp2,599 juta. Pengguna sudah dapat mulai melakukan pre-order di Lazada mulai 25 April jam 1 siang dan mulai akan dikirim mulai 4 Mei mendatang.

Continue Reading

Sains Iptek

Virus Kuno Mengancam Ribuan Penduduk Aborigin di Pedalaman Australia

Nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Published

on

By

Alice Springs – Ribuan orang dewasa dari suku Aborigin yang tinggal di pedalaman Australia, tengah terancam oleh sebuah virus kuno yang berisiko menjadi wabah.

Para ilmuwan di fasilitas laboratorium di kota Alice Springs, menyebut T-cell lymphotropic virus type 1 (HTLV-1) sejatinya tersebar di beberapa lokasi di dunia.

Namun, khusus untuk di Australia, tingkat risiko yang dimilikinya tercatat sebagai yang tertinggi di seantero jagat.

Dikutip dari Abc.net.au pada Selasa (24/4/2018), HTLV-1 merupakan ‘sepupu jauh’ virus HIV, yang dapat ditularkan melalui darah pada aktivitas seksual, atau dari ibu ke anak melalui kehamilan dan kegiatan menyusui.

Virus ini diketahui dapat menimbulkan peradangan pada kulit, mata, dan paru-paru. Menurut studi ilmah terkait, HTLV-1 juga berisiko memicu seseorang terkena gejala leukemia, kanker darah, dan cacat pada tulang belakang.

“Begitu beban pro-viral pada tubuh seseorang semakin tinggi, maka lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan yang kompleks,” ujar Joel Liddle, salah seorang peneliti.

“Pada beberapa kasus, virus ini juga bisa membuat gejala leukemia berubah cepat menjadi risiko kesehatan yang fatal,” lanjut Liddle.

Sejarah mencatat bahwa HTLV-1 paling banyak ditemukan di beberapa budaya kuno, seperti di selatan Jepang, Amerika Selatan, dan sebagian Afrika.

Virus ini diduga kuat sampai ke benua Australia melalui persinggahan maritim di Indonesia, dan kemudian memengaruhi kesehatan populasi masyarakat Aborigin secara luas.

Para peneliti Departemen Kesehatan Jantung dan Diabetes pada Baker Institute di Alice Springs, memperkirakan sebanyak 45 persen masyarakat Aborigin dewasa terkena dampak virus HTLV-1.

“Salah satu penyebab utama tersebar luasnya virus ini adalah karena mereka yang mengidap, tidak menyadari HTLV-1 bersarang di tubuhnya. Selain itu, sebagian besar masyarakat Aborigin belum pernah diuji lebih lanjut akan hal ini,” jelas Liddle.

Di wilayah Australia Tengah, para peneliti memperkirakan ada sekitar 5.000 orang yang terinfeksi virus HTLV-1, dan sebagian besar berasal dari masyarakat Aborigin.

“Itu hanya di wilayah kami, kami tidak tahu apa yang terjadi di perbatasan,” kata ahli penyakit menular Dr Lloyd Einsiedel.

“Yang mengkhawatirkan adalah HTLV-1 sekarang menyebar bersamaan dengan migrasi penduduk, dan kami telah melihat bukti nyatanya di Adelaide dan Perth,” lanjutnya menjelaskan.

Continue Reading

Sains Iptek

Kasus Pertama di Dunia, Monyet Beda Spesies Jatuh Cinta dan Kawin

Published

on

By

Photo: Shutterstock

Dodoma – Ketika berpasangan untuk kegiatan reproduksi, monyet biasanya memilih lawan jenis dari spesies yang sama.

Penelitian genetika baru menunjukkan bahwa primata di Tanzania begitu lincah, dan tidak ragu berhubungan seksual dengan lawan jenis di luar spesiesnya.

Dikutip dari Independent.co.uk pada Rabu (25/4/2018), penelitian tersebut dilakukan pada monyet ekor merah dan biru yang tinggal di Taman Nasional Gombe, Tanzania.

Meski tinggal dalam satu wilayah, kedua kelompok monyet tersebut berasal dari spesies berbeda, baik secara fisik maupun struktur sosialnya.

Ini adalah pertama kalinya kawin silang tersebut telah terbukti di antara monyet guenon.

Menurut hasil studi yang diterbitkan di International Journal of Primatology itu, hubungan unik tersebut membuahkan populasi hibrida yang unik.

“Ada banyak pergaulan bebas yang terjadi,” kata Kate Detwiler, penulis studi yang juga merupakan profesor antropologi di Florida Atlantic University.

“Monyet ekor merah berhubungan intim dengan ekor biru, dan ekor biru melakukan hal serupa ke ekor merah, yang kemudian keturunan hibridanya bisa berpasangan dengan monyet lain di luar spesies keduanya,” lanjut Detwiler menjelaskan.

Ia memperkirakan hubungan aneh itu telah berlangsung selama bertahun-tahun, yang kemungkinan alasannya adalah, monyet betina berekor merah mendapati pejantan ekor biru lebih eksotis daripada spesies mereka sendiri.

Fenomena tersebut, menurut Detwiler, diawali oleh betina ekor merah yang datang ke wilayah tersebut untuk mencari pasangan.

Adapun pejantan ekor biru datang setelahnya, yang kemungkinan, setelah ditendang keluar dari kelompok mereka ketika mencapai usia seksual matang.

Pejantan Ekor Biru Dianggap Lebih Eksotis

Dijelaskan lebih lanjut, penelitian ini melibatkan analisis DNA dari kotoran kedua primata beda spesies.

“Monyet ekor merah betina hadir sebagai mitra yang bersedia, dan tanpa paksaan, bersedia untuk bersetubuh dengan monyet jantan berekor biru,” urai Detwiler.

“Rupanya, beberapa monyet berekor merah betina tertarik pada para pejantan dengan wajah berbeda, dan terbuka untuk menyambut sinyal ajakan seksual,” lanjutnya menjelaskan.

Profesor Detwiler percaya bahwa mempelajari bagaimana kedua spesies ini hidup berdampingan, dapat membantu memahami hibridisasi secara umum.

Menurutnya, masyarakat menyediakan “laboratorium luar biasa di alam untuk membantu kami menjawab banyak pertanyaan, tentang bagaimana batas-batas spesies dipertahankan.”

Dia menambahkan, “Penelitian ini sangatlah tepat waktu karena hibridisasi sering terjadi sebagai respons terhadap perubahan lingkungan.”

Continue Reading

Trending